
Tujuh Pulau Pemberani
Kemampuan beradaptasi adalah harta yang paling berharga.
Pada zaman dahulu, di sebuah kota pelabuhan yang ramai bernama Windhaven, hiduplah seorang pelaut muda pemberani bernama Jamil. Dengan rambut cokelat berantakan, mata biru cerah yang berkilau seperti laut, dan hati yang penuh mimpi, Jamil dikenal karena jiwa petualangnya. Ia sering menatap cakrawala, merindukan hal-hal yang belum diketahui. Pada suatu malam yang menentukan, saat matahari tenggelam di balik ombak, ia berlayar dengan kapalnya yang kokoh, Sang Penjelajah Bintang, sambil menggenggam erat kompas kepercayaannya, sebuah pusaka keluarga yang diwariskan turun-temurun.
Saat Jamil mengarungi perairan yang berkilauan, badai tiba-tiba mengamuk, awan gelap berputar seperti pusaran murka di atasnya. Angin melolong dan menghempaskan Sang Penjelajah Bintang bagai perahu mainan. Ombak menghantam dari segala arah, Jamil berpegangan erat pada kemudi kapal, buku-buku jarinya memutih menahan kayu yang licin karena garam. Tepat saat ia mengira bisa mengarungi badai itu, gelombang raksasa menerjangnya, menelan kapal itu seutuhnya. Ketika ia tersadar, ia mendapati dirinya terdampar di sebuah pulau asing, tempat pasirnya berkilauan bagai berlian di bawah sinar matahari.

Jamil bangkit berdiri dan menyingkirkan pasir dari pakaiannya, menyadari bahwa ia tidak sendirian. Pulau ini hidup! Pepohonan bergoyang lembut, batangnya mengembang dan menyusut seperti raksasa yang bernapas. Saat ia menjelajah lebih dalam, ia menemukan sebuah tempat terbuka di mana danau yang berkilauan berdenyut berirama. Jamil mendekat dengan hati-hati, terpukau oleh pemandangan itu. Tiba-tiba, danau itu berbisik padanya, suara lembut yang mengalir bagai riak di udara: «Untuk menyeberang ke pulau berikutnya, kau harus percaya pada nalurimu dan menyelam, pelaut pemberani.»
Sepatu bot Jamil tetap tertancap di tepi air, satu tangannya masih menggenggam akar terdekat. Bagaimana jika ia tenggelam? Namun riak lembut danau itu terasa seperti dorongan semangat, dan ia menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut pulau itu bergema dalam dirinya. Dengan satu lompatan, ia menyelam ke air yang sejuk. Di luar dugaan, ia tidak tenggelam; sebaliknya, ia mengapung tanpa usaha, dan danau itu menuntunnya menuju sebuah gerbang berkilauan yang terbuka di bawah permukaan.
Setelah muncul dari air, Jamil mendapati dirinya di sebuah kota tempat tak seorang pun berbicara. Bangunan-bangunannya dihiasi mozaik yang penuh warna, namun setiap penduduknya bergerak dalam kesunyian. Bingung, Jamil mendekati seorang pedagang, memberi isyarat meminta makanan. Pedagang itu tersenyum ramah dan menyerahkan sepotong buah, tetapi tak sepatah kata pun terucap. Bahu Jamil terkulai, dan ia berharap mendengar setidaknya suara sekecil apa pun sebagai jawaban. Ia bertanya-tanya mengapa orang-orang ini memilih kesunyian.
Ketika matahari siang mencapai puncaknya, Jamil memperhatikan sesuatu yang aneh. Semua orang membeku, berdiri diam bagaikan patung. Ia merasakan dorongan untuk berteriak, tetapi menahan diri secara naluriah. Saat itulah ia memahami -- kota ini berkembang berkat keselarasan kesunyian, tempat pikiran dapat didengar tanpa kebisingan kata-kata. Terinspirasi, Jamil memutuskan untuk merangkul kesunyian itu, memejamkan mata dan mendengarkan gemerisik lembut dedaunan, kicauan burung dari kejauhan. Pada saat itu, ia menemukan kedamaian dalam dirinya.

Dengan kejernihan baru yang ditemukannya, Jamil menjelajah ke pulau berikutnya, tempat sebuah gunung menjulang tinggi, permukaannya berkilauan dengan magnet dari segala bentuk dan ukuran. Saat ia mendekat, ia merasakan kekuatan tak terlihat menariknya, menyeretnya ke berbagai arah. Rasanya membingungkan, dan sejenak langkahnya goyah melawan tarikan tak kasat mata itu. Setiap langkah ke depan terasa seperti perjuangan melawan arus yang tak terlihat, dan ia mempertimbangkan untuk berbalik.
Namun jauh di lubuk hatinya, Jamil teringat pelajaran dari pulau-pulau yang telah ia kunjungi. Ia berhenti melawan tarikan itu dan sebaliknya memperhatikan bagaimana magnet-magnet itu menari di sekelilingnya, belajar untuk bergerak selaras dengan iramanya, bukan melawannya. Ia mendaki lebih tinggi, merasakan tarikan magnet itu menuntunnya, bukan melawannya. Di puncak, ia menancapkan kompasnya -- kompas yang sama yang telah menuntunnya melewati laut berbadai -- ke batu puncak, menunjuk kembali ke setiap pulau yang telah ia lalui dengan mengubah pendekatannya setiap kali. Ia turun sambil sudah memikirkan tantangan berikutnya dalam benaknya, siap menghadapinya bagaimanapun datangnya, bukan dengan cara yang selalu ia gunakan untuk menghadapi tantangan sebelumnya.
Want your child's name in the next story? Create yours in the app
Pyxino turns your child's voice into a personalized, illustrated adventure. Free to try.
Free · Safe · Made for Families

